Kamis, 27 Juni 2013

alhamdulillah "Juara 1 artikel KOPMA UNNES 2013" 19 Mei 2013





Membangun Jati Diri Saat Momentum
Momentum hari jadi Koperasi Mahasiswa Universitas Negeri Semarang sudah selayaknya menumbuhkan semangat baru untuk Kopma Unnes sendiri. Semangat baru untuk meembuat kopma menjadi lebih baik dari sebelumnya.Lebih baik dalam sudut pandang koperasi yaitu lebih memajukan kesejahteraan mahasiswa sebagai anggota.Mengingat belum banyak anggota yang merasa sejahtera, atau hanya sebagian kecil anggota yang merasakan atmosfer dari manfaat Kopma itu sendiri. Maka, perlu adanya langkah awal untuk menjadikan Kopma lebih baik.
Banyak langkah yang dapat dilakukan untuk membuat kopma menjadi lebih baik,namun langkah yang mendasar yaitu kembali membangun jati diri kopma yang sesungguhnya.Banyak orang bijak mengatakan bahwa orang yang berhasil biasanya adalah orang yang jauh mengenal dirinya sendiri daripada orang lain.Orang yang punya tujuan yang jelas serta tahu peran untuk mencapai tujuan tersebut.Ternyata, perkataan bijak ini tidak hanya berlaku untuk seseorang saja, namun juga untuk kelompok atau suatu golongan tertentu termasuk koperasi mahasiswa.
Kita tidak akan bisa membangun kalau tidak tahu apa yang harus dibangun.Untuk itu, kita harus tahu terlebih dahulu apa yang menjadi jati diri koperasi mahasiswa agar kita bisa dengan mudah membangunnya.Cara yang bisa dilakukan untuk mengetahuinya adalah dengan mengetahui peran koperasi mahasiswa.Menurut Muslimin Nasution, mantan Menteri Pertanian di Kabinet Reformasi Pembangunan pada saat Munas Kopma VIII yang diadakan Forum Komunikasi Mahasiswa Indonesia di Malang pada tahun 2002,peran kopma antara lain adalah menjadi moral force (gerakan moral) yang menampung aspirasi masyarakat,sekaligus sebagai lembaga advokasi dari gerakan koperasi untuk menentukan kebijaksanaan pemerintah yang secara kaffah berpihak kepada ekonomi rakyat.
Kopma lewat potensi dirinya juga memiliki kemampuan mengisi segi kelemahan koperasi dari sumber daya manusia dan iptek.Sehingga, mampu meningkatkan peran sertanya dalam efisiensi dan produktivitas koperasi dalam pembangunan ekonomi nasional.Selain itu, kopma bersama masyarakat kampus dan masyarakat lainnya dapat semakin menemukan jati dirinya sebagai pelaku koperasi andal yang bermutu, menyejahterakan dan mandiri.Dari pendapat tersebut kita semakin jelas mengetahui jati diri Kopma.
Selain itu,agar jati diri Kopma bisa terbangun Kopma juga harus dapat mewujudkannya melalui proses pengembangan daya tarik bagi penguasa, pelaku bisnis dan pengusaha dari daerah lain terutama daerah sekitar Kopma sendiri. Salah satu caranya yakni lewat pendekatan dengan mengajak pimpinan dan para pengusaha untuk melakukan kegiatan dan bisnis di lingkungan kampus dengan sekaligus mengaitkannya dengan bisnis masyarakat sekitar yang ada di sekitar kampus. Sehingga, bentuk nyata dari adanya Kopma dapat dirasakan oleh semua civitas kampus bahkan masyarakat sekitar kita.

cuma iseng ikut event menulis :)



Semarang, 20 Juni 2013
Betapa angkuhnya jika sebelum menarikan jemari tanganku,aku tidak mengucap syukur kepada Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang di dunia dan di akhirat. Betapa tidak tahu diri jika sebelum menuangkan ide yang ada dibenakku aku lupa memanjatkan shalawat serta salam untuk beliau Rasul yang mulia.
Kutulis surat ini untuk dia yang kelak Yang Maha Pengasih hadirkan untuk mengasihiniku.
Kutulis surat ini untuk dia yang kelak Yang  Maha Penyayang percayakan untuk menyayangiku.
Kutulis surat ini untuk dia yang kelak Yang Maha Pencipta ciptakan sebagai tempatku berbakti.
Kutulis surat ini untuk dia yang kelak Yang Maha Pemberi memberikan padaku untuk membangun keluarga dunia dan akhirat.
Kutulis surat ini untuk dia yang kelak Yang Maha Besar menghendaki bahwa akulah tulang rusuk yang dia cari selama ini.
Surat ini kutulis saat malam diringi dengan hujan yang bernyanyi indah. Dalam ilmu hidrology yang kupelajari, air mempunyai siklus untuk turun sebagai hujan, ada siklus pendek,sedang dan panjang.  Begitupula menanti “dia” yang kelak akan menjadi imamku, dia butuh siklus untuk kelak turun sebagai imamku, bisa siklus pendek yang berarti sebentar penantianku, siklus sedang yang membuatku tenang untuk menanti, atau bahkan siklus panjang yang akan membuatku sabar dalam penatianku. Bagaimanapun siklus dia kelak, aku akan terima jika itu takdir indah yang telah disiapkan oleh Allah SWT.
Sayangnya sampai saat ini aku masih belum tahu dia itu siapa,dimana,sedang apa,seperti apa,suka apa, dan pertanyaan lain yang sama sekali tidak ku tahu. Namun, aku percaya Allah telah menyiapkannya untuku. Meski, aku tidak berani untuk sekedar mengintip takdirNya untuku dengan mencari-cari siapa yang cocok untuku.
Menulis surat ini berarti berharap agar kelak dia yang menjadi imamku membacanya. Aku tidak peduli ekspresi apa yang akan dia tunjukan saat membaca surat ini yang akan menjadi masa laluku saat dia membacanya. Dia calon imamku mungkin akan tersenyum, akan memperbaiki susunan kalimatku atau bahkan akan mengejekku karena tidak bisa merangkai kata seindah kata yang dia rangkai.Entahlah, aku tidak ingin terlalu menerka apa reaksinya saat membaca surat ini kelak.
Dia yang sekarang masih menjadi teka-teki kemudian di masa depan tidak lagi menjadi ilusi. Hei, betapa anehnya jika dia akhirnya harus membaca surat dengan kata “dia” padahal dia sedang membacanya. Baiklah, agar dia kelak merasa bahwa dia adalah dia yang kumaksud akan kukanti kata “dia” untuk calon imamku menjadi “kau” sehingga yang dia rasakan surat ini memang untuknya.
Wahai  imamku!, Kau tahu kisah tentang cinta anak manusia sudah menghiasi muka bumi sejak mula Nabi Adam menghuni dunia ini. Cerita cinta selalu menjadi perbincangan yang menarik. Bukan hanya didalam drama,novel atau dongeng. Bahkan para ulama pun banyak menyusun kitab yang membahas masalah cinta. Dan harapanku kita akan bisa mengukir kisah cinta kita yang berawal dari ikrar suci sesuai apa yang diajarkan agama kita.
Wahai  imamku!,aku tahu di zaman yang sudah tidak purba ini godaan iman begitu kuat. Saat menunggu dengan terus memperbaiki diri terkadang iman ingin belok sana sini. Berbagai cara aku lakukan agar iman tetap dalam koridornya, meski usaha tersebut sangat membutuhkan cara yang tidak biasa aku sangat menikmatinya.
Wahai  imamku!, saat aku rindu dan tidak tahu jiwa siapa yang aku rindu. Aku selalu menitipkan rindu ini pada angin yang berhembus, bulan yang bersinar, atau bulan yang berkedip. Dalam setiap sujudku tentunya selalu kutitipkan jiwaku agar lebih tenang dalam rindunya penantian. Rindu menanti orang yang tepat di waktu yang tepat.
Wahai imamku! Aku harap kau dapat menerimaku apa adanya, melengkapi kelebihanku dan menutup kekuranganku. Kau bisa menerimaku meski aku jauh dari kriteria wanita yang kau inginkan dahulu. Aku memang tidak berparas ayu seperti model yang sering tampil di layar televisi. Namun, aku masih bisa terus memperbaiki diri agar selalu menjadi istri yang sholehah untukmu. Yang bisa membuat kau tentram saat kau gelisah. Yang bisa membuatmu senang saat kesedihan melanda. Yang bisa membuatmu tegar saat ujian menerpa. Yang setia mengarungi gelombang dalam bahtera rumah tangga yang telah kita mulai.
Wahai imamku!, sungguh surgaku setelah menikah ada didirimu. Maka, izinkanlah aku mendapatkan surga itu dengan berbakti padamu. Menjadi perhiasan dunia terindah. Menjadi wanita sholehah.
Wahai imamku!, tegur aku saat aku salah, luruskan aku saat aku mulai belok, ingatkan aku saat aku lalai, perbaiki aku saat akhlakku mulai melenceng, nasihati aku saat aku keliru.
Ah, lama-lama baku juga jika terus-menrys menggunakan kata wahai. Kau tahu, aku selalu yakin akan firman Allah bahwa lelaki yang baik untuk wanita yang baik dan begitupula sebaliknya. Untuk itulah saat kau belum datang menjemputku, aku akan senantiasa terus-menerus memperbaiki diri dan ku harap kau pun sama.
Satu lagi yang harus kau tahu, salah satu cita-citaku dulu dan kini adalah menjadi wanita dibalik kesuksesan suami dan anaknya. Yah, kuharap aku akan menjadi wanita yang senantiasa mendukungmu agar terus berprestasi di jalan yang Allah Ridhai dan menjadi wanita kedua setelah Ibumu yang berati untukmu. Dan aku harap, aku bisa menjadi madrasah yang baik untuk anak-anaku kelak sehingga mereka bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang siap menjadi generasi penerus dan pelurus peradaban Islam. Semua itu tidak akan terwujud tanpa dukunganmu, mari kita bekerja sama membangun peradaban yang baik di mulai dari anak kita sendiri.
Terakhir, dan kuharap kau merekahkan senyummu karena akhirnya surat ini mencapai ujungnya. Apapun siklus yang Allah berikan untuk menghadirkanmu saat aku menantimu. Kau tetap terbaik untukku. Seperti hujan yang turun baik dari siklus pendek,sedang maupun panjang, tetap akan selalu membuat tanaman tumbuh dan berkembang. Begitupula kau, yang akan membuat cinta suci ini tetap tumbuh dan berkembang saat penantian itu usai.



Beasiswa Data Print 2013

http://beasiswadataprint.com/



Sabtu, 25 Mei 2013

Puisi (lagi) for my mom :)



Selalu ada
Ingatanku memang tak indah
Ingatanku bahkan terkadang parah
Ingatanku sering tarpatah-patah
Tapi untuk ini ingatanku tak terbantah
Aku tau dia selalu ada bahkan di tempat aku menyerah
Di tempat aku merasa salah
Di tempat aku merasa semua kalah
Di tempat aku merasa semua nya membuat lelah
                                Cukupkah sampai disitu?
                                Pantaslah aku hanya mengingatnya saat duka mnyerbu?
                                Terlalu jahat jika hanya begitu
                                Karena dia ada di setiap waktu
Sentuhan hangat yang menyejukan
Senyuman semangat yang menyenangkan
Nasihat indah yang menenangkan
Motivasi kuat yang membangkitka
                                Ingin bersua selalu
                                Meski ku tahu saat raga tak berjumpa
                                Doa mu selalu ada
                                Membuat waktu tak jumpa terasa lambat dan lama
                                Oh Bunda kau penyejuk hati penyejuk mata
                                Oh Bunda ku tahu doamu selalu ada
                                Oh Bunda ku tahu kasihmu selalu ada
                                Berlimpah tanpa ku minta

Sabtu, 13 April 2013

Cerpen lagi yuuuu :)



Ternyata Inilah Alasannya
By:Yasmin I’lliyyin

Hari ini aku benar-benar dibuat bingung dengan sikap Ibu yang berubah 360 . Perubahan yang drastis bukan?. Hari ini adalah hari pertamaku di rumah setelah kemarin sore Ayah tiba-tiba menjemputku dari rumah Kakek dengan ekspresi muka yang sama sekali tak ku mengerti. Bahkan bukan hanya ekspresi Ayah, Kakek pun menunjukan raut wajah yang tak kalah membuatku bingung.
Sudah lebih dari 3 bulan aku tinggal di rumah kakek. Padahal sebelumnya aku tinggal di salah satu pondok pesantren yang tak terlalu jauh letaknya dari sekolahku. Namun, setelah prestasi akademik di kelasku turun drastis Ayah dan Ibu menyuruhku tinggal di rumah Kakek dengan alasan agar lebih bisa belajar fokus dan lebih dekat dengan sekolah. Memang, dari rumah kakek ke sekolah bisa dijangkau dengan jalan kaki. Awalnya aku keberatan tinggal di rumah kakek walau akhirnya aku merasa ini adalah sesuatu yang mengasyikan karena menambah seru pengalaman hidupku.
Dan hari ini, tepatnya hari Minggu dahiku kembali berkerut. Bagaimana tidak? Aku yang akan pergi ke rumah salah satu teman kelas untuk mengerjakan tugas kelompok mesti diantar oleh sepupuku. Bukankah selama ini aku biasa pergi sendiri? Ibu memang aneh, biasanya juga dia membiarkan aku pergi sendiri. Dan parahnya kupikir sepupuku hanya akan mengantarku dan kembali pulang ternyata malah menungguku bahkan memantauku sampai tugasku dan teman-teman selesai.



Sebenarnya ketika diajak pulang ke rumah saat dijemput Ayah aku sangat keberatan. Bagaimana tidak? Jarak rumahku dari sekolah bisa dibilang memakan waktu yang cukup lama dan itu membuatku harus berangkat dari rumah ketika matahari sama sekali belum menampakan batang hidungnya. Hanya itu saja alasanku? Ah tidak juga, masih banyak alasan lain yang membuatku sungguh keberatan berangkat sekolah dari rumah. Apalagi sekarang aku duduk di bangku kelas 3 SMA dengan jadwal belajar yang super padat dan membuatku baru tiba di rumah setelah matahari sedang berkemas untuk kembali menyimpan sinar terangnya.
Mekipun begitu, perubahan sikap Ayah dan Ibu membuatku sedikit mengurangi rasa keberatan yang selama ini aku rasakan.
Ibu yang biasanya cepat naik pitam meskipun hanya karena masalah yang benar-benar sepele kali ini begitu kuat untuk menahan emosinya.Namun, aku begitu menyadari bahwa kantung matanya sedikit membesar. Entah apa sebabnya yang jelas aku tak berani bertanya.
Bagaimana dengan perubahan Ayah? Ah, Ayah ku terlalu misterius untuk ku tulis perubahannya. Ayahku bukan tipe orang yang mudah terbaca oleh orang lain. Ayahku selalu pandai menyimpan apa yang berkecamuk di hatinya. Baik suka maupun duka.
Hari ini, sepulangnya dari kerja kelompok dari rumah teman. Aku terdiam di dalam kamar merasakan sesuatu yang sedang berkecamuk di tubuhku. Diam dengan menggigit bibir. Diam dengan menahan air mata yang akhirnya tak kuat untuk kubendung.Diam memegang bagian sakit meski ku bingung bagian mana yang harus kupegang karena terlalu banyak bagian yang berkecamuk. Entah, apa yang sedang terjadi dengan tubuhku yang jelas sudah beberapa minggu ini aku merasakan hal yang seperti ini. Sejak masih di rumah Kakek dan selalu kutahan di dalam kamar sendirian sampai sekarang,ketika ada di dalam kamarku sendiri.




Lupakan hal tadi!. Aku masih penasaran dengan perubahan Ayah dan Ibu ketika suatu malam mereka tiba-tiba memanggilku dan mengizinkanku untuk kuliah di Yogyakarta dan mengambil jurusan yang kuinginkan. Padahal aku tahu selama ini mereka bersikeras melarangku untuk kuliah disana dan mengambil jurusan yang kuminati. Mereka hanya menginginkan aku mengambil jurusan pendidikan dan menjadi guru seperti mereka.
Dan hari berikutnya perubahan demi perubahan sikap mereka semakin mencolok. Namun, aku tak peduli. Semua perubahan itu tak banyak kupikirkan sekarang karena tugas sekolah yang menumpuk dan pemadatan pelajaran dalam menghadapi UN yang semakin dekat.
Hampir seminggu aku sekarang di rumah dan hampir seminggu juga sesuatu itu semakin berkecamuk. Meski sebenarnya dari dulu seudah terasa tapi seminggu ini aku rasa sudah semakin keterlaluan. Semuanya tidak hanya terasa di rumah melainkan di sekolahpun semakin menggeliat mengganggu aktivitas belajarku.
Aku tahan, karena ku yakin aku bisa. Meski aku tak yakin dengan semua yang kurasakan aku bisa kembali mencapai presatasi yang lebih baik lagi di sekolah. Aku semangat namun tubuh ini merintih. Aku berlari dengan ambisi namun tubuh ini memilih diam menyendiri. Aku berjuang namun tubuh ini merasa terbuang. Bagaimana ini, aku terdiam dengan apa yang kurasakan. Tak sanggup ku mengeluh meski hanya sedikit peluh.
Sebenarnya, sejak beberapa bulan lalu. Awal dimana semua terasa aku sudah pernah mengeluh kepada orangtua ku. Meski akhirnya keluhanku di anggap angin lalu. Akhirnya, setelah beberapa kali mengeluh aku tak berani lagi mengeluh karena ku tahu mengeluh atau tidak semua tak akan bereaksi.
Sejak saat itu aku selalu menahan apa yang berkecamuk dan membuat tubuhku merintih. Aku hanya berusaha untuk kuat. Ini sepele dan aku pasti bisa melewatinya. Aku pikir ini biasa, keadaan lelah yang membuat tubuh mengalah.

Dan minggu ini aku di rumah. Pola makanku begitu dijaga oleh Ibu dan Ayahku. Perhatian yang beda dari biasanya dengan berlebihnya aku terima. Kupikir karena memang orang tua ku ingin menjadi orang tua yang lebih perhatian dari biasanya. Atau karena mau UN mereka benar-benar ketat menjaga diriku agar tetap fit saat ujian. Suatu nikmat yang perlu aku syukuri.
Sayangnya,beberapa hari kemudian di sore hari saat istirahat sepulang sekolah,tubuhku semakin meringkih,rasa itu menggerogoti perlahan,bibirku ku gigit kuat menahan sakit seperti biasanya. Namun, kali ini jurus itu tak mempan. Air mata pun perlahan keluar dan berujung menjadi banjir yang tak terbendung. Ternyata begitu sakit. Ingin rasanya aku mengeluh atau berteriak.
Kulihat Ibu memasuki kamarku dan menyuruhku makan. Ku pegang tangan Ibu, mulutku tetap terkatup menahan sakit. Pegangan tanganku semakin kuat dan Ibu perlahan menitikan air matanya. “Makan dulu sayang!”, Ibu menyuapiku perlahan, dan disela-sela nasi yang bertumpuk aku baru tersadar bahwa ada obat didalamnya.
Ibu membuka mulutnya perlahan dan berbicara dengan lembut, “Sabar ya sayang  Allah sedang menguji , dan maafkan Ibu tidak memberi tahu sebenarnya selama ini Ibu menyisipkan obat disetiap makananmu, karena Ibu ingin kamu sembuh dan bisa ikut ujian, Ibu tidak ingin sakitmu semakin parah dan membuat kamu mau tidak mau harus di operasi’. Ibu berbicara dengan tulus sambil meneteskan air mata menyuapiku makan. Tapi, sakit ini semakin menggeliat di tubuhku.
“Aku sakit apa bu?, mengapa sakitnya teramat sakit?”, akupun bertanya dengan nada seperti mengeluh. Maafkan aku Ya Allah, bukan maksudku menjadi pengeluh. Ibu yang ku tanya tetap terdiam tak menjawab. Hingga makanan yang dia suapi padaku habis, hingga tubuhku merasakan pengaruh obat di tubuhku, dan hingga tubuhku terlelap di tempat tidur, Ibu tak kunjung menjawab pertanyaanku.


Tengah malam aku terbangun, sayup kudengar suara tangisan. Kudengarkan dengan perlahan.Tuhan, bukankah itu suara tangisan Ibu? Kenapa Ibu menangis? Batinku terus bertanya. Kudengar suara Ayah menenangkannya. Tangis Ibu begitu jelas di tengah malam yang sepi. Aku terdiam dan berusaha menangkap apa yang mereka bicarakan, kudengar Ayah berkata pada Ibu “Sabarlah bu,percayalah Rima akan sembuh, kita berdo’a kepada Allah SWT semoga penyakit kanker.........”. Berhenti dikata itu aku tak berani terus mendengarkan kalimat selanjutnya. Aku tergugu, kalimat berikutnya aku malah mendengar spesifik penyakitku dan stadiumnya.. Aku semakin tergugu..Ya Allah, ternyata inilah alasannya mengapa semua berubah. Ya Allah sanggupkah aku?. Aku kembali terisak di balik bantal.







*Keterangan :
Yasmin I’lliyyin adalah nama pena dari yeyen Janatul I’liyin