Sabtu, 14 Juni 2014

Edisi Kangen Ummi..




#Edisi Kangen Ummi
Malam ini dingin ummi...
Malam ini terlalu jahat untuku..
Malam ini bahkan seolah tak memberi jeda untuku..

Secangkir rindu untukmu telah kuteguk mi..
Ternyata masih menyisakan dahaga..
Kuteguk lagi secangkir
Masih terasa kering..

Ummi..ingin memelukmu
Kadang aku tak perlu berucap banyak
Cukup erat dipelukanmu..
Kai menenagkan menentramkan..
Meski hanya elusan..

Ummi..
Apakah teteh yang kurang tegar
Atau memang semua ini yang sangar..

Kupejamkan mata..
Membayangkan kau yang jauh tersenyum didepanku..
Ingin rasanya menangis
Ingin rasanya mengeluh..
Tapi..
Saat ku ingat kau lebih pantas menangis karna aku yang sering membuat jengkel
Kau yang lebih pantas mengeluh atas kerja kerasmu untuk kami anakmu...

Aku tak jadi
Tak jadi menangis dan mengeluh...

Kamis, 15 Mei 2014

"Tisu" dan "Agen penyelamat Bumi"

Tisu
Iseng tapi semoga bermanfa’at J
Sejak kemarin hidung saya tak henti-hentinya mengeluarkan cairan putih yang bikin pusing kepala. Yupz,, nikmat “flu” meskipun sepele ternyata luar biasa menyiksa. Bikin suasana hening jadi berisik ga karuan karna hidung kita terus menerus berisik, bahkan sesekali bersin. Kacaunya lagi, terkadang beberapa orang melirik risih melihat kita karna mendengar bunyi “kurang enak” dari kita. Well, meskipun sebenarnya saya yakin temen-temen semua pernah mengalami sakit yang satu ini. Apalagi di saat perubahan musim seperti ini. So, yuk,,,jaga kesehatan sebelum akhirnya punya hidung yang terus-menerus mengalirkan cairan dan membuat kepala pusing.
Oppss,, saya pikir, saya tak akan cuap-cuap banyak tentang “flu” saya akan lebih fokus terhadap tisu nya. Why? Ok,,kebanyakan orang termasuk saya ketika flu biasanya membutuhkan tisu. Saat SD-SMP saya lebih biasa pake sapu tangan, tapi entah kenapa sejak SMA sampai sekarang saya malah lebih “comfort” menggunakan tisu.
Tapi, baru tadi saya tersadarkan dan merasa tertampar, entah kenapa saat melewati taman kampus menuju perpustakaan pusat, pikiran saya tertuju pada pohon-pohon yang berjejer indah dan rapi. Ok., dan anehnya lagi saya terbesit kalimat yang entah kapan pernah saya baca “ Orang Bule itu bener-bener ga cinta bumi, masa nebang jutaan pohon Cuma buat bikin tisu yang dipake ngebersihin diri dari BAK dan BAB” kurang lebih yang saya ingat seperti itu. Lalu, saya melirik ke tisu yang saya genggam, lantas apa bedanya saya dengan sang bule tadi kalo saya juga secara tidak langsung menebang pohon hanya sebagai tempat pembuangan cairan memusingkan dari hidung”..#ngerasa bersalah deh..
Lantas, saya melirik ke kantin. Aduuh, bahkan selama ini kita merasa butuh banget sama tisu saat selesai makan di kantin. Padahal, betapa bijaknya kalo kita bersedia membawa sapu tangan kemana-mana. Bahkan, ternyata lebih irit karena ternyata bisa dicuci lalu dipake lagi.
Ok,, saya jadi penasaran tentang kaitan tisu dengan kecintaan kita terhadap bumi,, sampai di perpustakaan saya langsung mencari info nya,, dan taraaaaaa.......... saya menemukan ini.. semoga menambah khasanah pengetahuan kita J


Siapa yang tidak mengenal tisu? Kertas tipis yang ada di tas dari setiap perempuan bahkan di toilet anda. Di Indonesia semua restoran sampai warung harus menyiapkan tissue, jika tidak kita akan beranggapan servisnya payah. Kalaupun ada pilihan antara pengering elektrik atau tissue, kita akan lebih memilih tissue. Selama ini kita berpikir  tisu lebih efisien. Sekali pakai langsung buang. Sehingga dapat dijumpai di semua tempat sampah pasti penuh dengan tisu sekali pakai langsung buang. Akan tetapi taukah anda tisu terbuat dari apa?
Tisu terbuat dari serat kayu yang berdaun jarum atau pinus atau yang memiliki serat kayu pamjang. Proses pembuatan kertas, termasuk pembuatan tisu, membutuhkan tekhnik chipping (memotong-motong menjadi irisan tipis), grounding (meratakan permukaan), pressing (memadatkan), drying (mengeringkan) and chlorine bleaching wood (pemutihan kayu dengan klorin). Proses pemutihan menggunakan klorin dan merkuri, yang berbahaya bagi manusia serta lingkungan disekitar Anda.
Dan taukah anda, 27.000 pohon di planet ini dibuat menjadi kertas-kertas termasuk kertas tisu setiap hari. Padahal setelah digunakan, kertas tisu tidak dapat didaur ulang lagi. Pohon-pohon yang terus ditebang dalam jumlah besar setiap harinya ini, tidak mungkin dapat diimbangi dengan pertumbuhan pohon yang membutuhkan bertahun-tahun untuk  tumbuh menjadi pohon-pohon siap tebang. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan akan konsumsi kertas, banyak hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia berubah menjadi hutan-hutan pertanian. Hutan-hutan ini hanya memiliki satu jenis pohon. Hal ini akan berefek negatif untuk kelangsungan berbagai hewan yang hidup di hutan yang membutuhkan keanekaragaman spesies tanaman.  Hal ini jelas akan mengganggu ekosistem.
Selain berefek negatif bagi ekosistem, dengan menggunakan kertas tissue berarti kita juga bertanggung jawab pada kerusakan lingkungan, karena bahan baku kertas tissue berasal dari pohon. Sedang sebatang pohon butuh bertahun-tahun untuk  siap ditebang dan diolah lagi. Dengan demikian pula berarti kita juga bertanggung jawab pada terjadinya krisis oksigen dan air, karena fungsi alami pohon adalah sebagai penghasil oksigen sekaligus juga sebagai penyerap air. Maka secara otomatis kita juga bertanggung jawab atas global warming yang terjadi saat ini.
Selain itu, dari segi ekonomis pemakaian tisu juga sangat boros. Pemakaian tisu sekarang ini sudah tidak terkontrol, karena rata-rata 1 orang menggunakan lebih dari 1 lembar tissue untuk sekedar mengeringkan tangan mereka. Padahal kita dapat memakai sapu tangan daripada kertas tisu. Selain itu untuk restoran atau hotel sebaiknya mulai menggunakan pengering elektrik dibanding dengan menyediakan kertas tisu. Karena penggunaan pengering elektrik lebih  ekonomis dibandingkan dengan  tissue.  Apalagi pengering elektrik itu sebenarnya sangat sederhana karena hanya terdiri dari koil, fan dan switch elektrik, tidak memerlukan banyak perawatan, dan bisa tahan sampai 7 tahun. Jadi setelah pemasangan, pengering elektrik sudah tidak memerlukan pengeluaran lainnya selain listrik yang digunakan.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka  cara untuk kita berkontribusi pada Mother Earth’ s  yaitu:
  • Gunakan tisu toilet dan kertas tisu secukupnya sesuai dengan kebutuhan,
  • Gunakan saputangan sebagai pengganti tisu,
  • Lebih baik gunakan pengering elektrik untuk mengeringkan tangan (dan jangan gunakan tisu setelahnya!). Biasanya pengering elektrik mampu digunakan lebih dari 7 tahun.
Jadi berfikirlah tentang keuntungan ekonomisnya bagi kita maupun bagi anak cucu kita kelak, bandingkan dengan penggunaan tisu yang tentunya berdampak negatif bagi kita semua. Mungkin tidak sekarang kita rasakan dampaknya, tapi 5 tahun yang akan datang Anda akan merasakan dampak buruk penggunaan tisu tersebut.

Tuh kan,, terbukti ga bijak pemakaian tisu *sambil melirik ke tisu yang ada di samping laptop saya. Mungkin setelah ini saya akan membeli saputangan dan tidak menggunakan tisu lagi kecuali “kepepet” banget. Yu, kita coba dari hal kecil, sederhana tapi bermakna. Lets save our earth J. Agen geografi, agen penyelamat bumi J


Selasa, 13 Mei 2014

SEMALANG

Kuncup diujung sana mengerdip
Angin perlahan menggugurkan daun
Indah
Bagi mata yang menyaksikan

Sayang, tapi kosong
Tak ada bayangan itu dimata
Sayang, tak ada arti
Tak ada pantulan dalam otak
Karna si pemilik
Merasa raga sedang pisah
Nyawanya melayang
Melayang jauh
Jauh ke Malang
Kota yang membuat dia malang.

Semarang,27 Januari 2014

Senin, 17 Maret 2014

Purnama pertama 2014

17 Maret 2014

Tadi malam seharusnya malam indah aku melepas lelah, lelah tak berjumpa dengan puncak purnama di bulan Maret... purnama pertama di tahu 2014 yang harusnya dapat kulihat dengan jelas.
Yapz..bagaimana tidak bulan Januari langit senantiasa ditutpi mendung hingga sang lunar malas untuk muncul. Februari samar-samar aku melihatnya sebelum malam puncak. Meski tak bersinar terang karena awan hitam tebal menyelimutinya. Lantas Maret ini, kemarin tanggal 15 dan 16 aku bersyukur tak terkira dapat melihat bulatnya yang sempurna, cahaya temaramnya yang memancar meski akhirnya aku taak dapat bersua di malam puncak purnama bulan Maret karna langit diselimuti awan mendung yang meneteskan rintik hujan, setidaknya sebelumnya aku melihat purnama. Purnama pertama di 2014 :). Allah purnama mu selalu menentramkan hati :)

Minggu, 19 Januari 2014

Bisa Jadi


BISA JADI
Hamparan rumput hijau didepanku seolah tersenyum menghiburku. Aku hanya duduk terdiam dengan angan entah kemana menatap kosong ke rumput itu. Nyanyian burung pipit di pohon yang berjajar rapi disetiap sudut lapangan seolah dengan senang hati menjadi soundtrack atas posisi duduku di salah satu bangku  sudut lapangan. Detik ini, aku menggigit bibir dengan keras, menahan agar air mata tak mengalir dipipiku. Aku katakan bahwa aku bisa menjalani semua ini. Saat mata ini mencoba memandang ke atas, ke langit biru yang terhampar tiba-tiba aku teringat peristiwa satu minggu lalu. Peristiwa yang persis sama terjadi di tempat ini.
“Ra, liat deh capung-capung yang terbang di sekitar lapangan ini!, banyak banget ya?” Pipin dengan matanya yang antusias dan berbinar bertanya padaku. Pertanyaan yang dia sendiri sudah mengetahui jawabannya.
“Apaan sih, udah gede masih aja tanya mana yang banyak mana yang sedikit”, jawabku sambil mencibir. Namun, mata tak dapat berhenti melihat pesona capung yang beterbangan.
“Kamu tau ga ra? Banyaknya capung kan menandakan kalau tempat tersebut masih asri”, Pipin berkata serius sambil membenarkan posisi duduknya, dan menoleh penuh arti.
“Hei, itu kata-kataku kemarin tauuuu!” Aku gemas dan mencubit pipinya.Kami berdua tertawa.
Ah, langit yang kutatap tiba-tiba tak lagi biru karena awan bergerak menutupinya. Aku tersadar itu hanya cerita satu minggu yang lalu. Hari ini, tak ada lagi canda tawa itu. Kami tak lagi bersama.
Aku beranjak pergi meninggalkan bangku disudut lapangan. Meninggalkan capung yang sedang menari indah diatas hijaunya rumput. Menyusuri jalan setapak koridor kampus, lalu berdiri tegak saat harus menunggu angkutan umum dipinggir jalan. Tak lama lagi adzan magrib berkumandang, hari memang semakin petang dan angkutan umum yang kutunggu tak kunjung tiba. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada dua orang mahasiswi yang sedang berjalan sambil bercanda. Aku langsung teringat Pipin.
“Pin, ada satu rahasia besar yang akan kuberi tahu padamu”, suatu sore di kamar kos ku,aku berkata dengan nada begitu rendah dan tatapan serius.
“Apaan sih ra? Seorang Tiara punya rahasia? Haha...kayaknya ga mungkin deh! Pipin malah mengajaku bercanda.
“Tau ah, sulit ngomong sama kamu” Aku cemberut menyambut gurauan  Pipin.
Pipin malah tertawa lepas dan akhirnya menatap serius padaku. Mengambil posisi duduk yang nyaman. Benar-benar memperhatikanku dan ekspresinya menunjukan bahwa dia siap mendengar apa yang akan aku utarakan.
Sore itu mulutku lancar berbicara suatu rahasia kepada Pipin. Dia sudah kuminta tidak berkomentar sampai apa yang aku ceritakan selesai. Saat itu, aku tahu Pipin ingin sekali memotong kalimatku dan bertanya banyak hal. Namun apa daya, dia sudah terikat perjanjian denganku.
Aku sukses mengakhiri apa yang aku ceritakan. Pipin tertegun menatapku tak percaya. Dia memelukku sambil berlinangan air mata. Aku? Aku tak menangis sedikitpun. Aku terlalu sulit untuk menangis. Entah bingung apa yang mesti kutangisi atau bingung karena air mataku sudah habis terkuras sejak kecil.
Pipin melepaskan pelupakannya dan mulai membuka mulut.
“Ra, aku kira hal seperti itu hanya terjadi dalam film” dia menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “Yah, seperti dalam film 3 idiots misalnya!” Pipin menyebut salah satu judul film india yang membuat aku tersenyum saat mendengarnya.
Aku ingat persis peristiwa itu. Sore itu aku mengutarakan rahasia besar dalam hidupku. Pipin satu-satunya orang yang tahu rahasia tentang hal itu di kampus bahkan kota ini. Dua mahasiswi yang sedang kutatap dari jauh tadi telah berjalan melewatiku yang masih setia menunggu angkutan umum. Mereka tersenyum saat melewatiku. Tersenyum ramah, meskipun sebenarnya mereka tahu dari tadi aku menatap dan memperhatikan mereka.
Angkutan umum yang kunanti akhirnya menampakan diri, membawaku pulang menuju kos yang sengaja kupilih berjarak jauh dari kampus tempatku menuntut ilmu. Dari kaca angkot aku menatap jelas gedung rektorat. Besok pagi, aku harus ke gedung itu memenuhi surat panggilan Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan. Dan terhitung beberapa hari dari sekarang aku akan meninggalkan kampus dan kota ini.

(terpotong dul;u yaaa... :D)

Sabtu, 31 Agustus 2013

Sekedar coretan

Kalian tahu, menjadi guru untuk orang lain itu mudah, mengajarkan dan menasihati orang lain dengan senang hati. Tapi menjadi guru untuk diri sendiri itu sangat sulit. Selain itu, menjadi dokter untuk orang lain itu mudah, melarangnya untuk makan sessuatu, menyuruhnya melakukan pengobatan, tapi menjadi dokter untuk diri sendiri itu sangat sulit. Nah, dan sebenarnya itulah kenapa harus ada orang lain dalam hidup. karena kita sungguh membutuhkan orang lain. So, hiduplah dengan santun terhadap sesama :)

Kamis, 08 Agustus 2013

Idul Fitri 1434 H

                                                 Takbir
                                                                                            Majalengka, 8 Agustus 2013 / 1 Syawal 1434 H
                                                                                               
Partikel udara berjalan perlahan
Terasa begitu lamban
Sayup suara burung terdengar sendu
Seolah hanya ingin terpaku
                Ku tatap semesta
                Rona sedih terbaca
                Meski hanya kuketahui lewat rasa
Gema takbir riuh bergema
Tetap saja hati tak bersahaja
Diri tak kunjug rela
Untuk berpisah dengan bulan penuh warna
                Gema takbir bersahutan
                Air mata mengalir pelan
                Sedih meninggalkan Ramadhan
                Berharap bertemu di tahun depan
Semesta bertakbir
Kemenangan di ujung bibir
Meski sedih tak kunjung pergi
Seulas senyum tetap harus terpatri
Menyambut Idul Fitri
                                                                                                                Yasmin i’liyyin